duniafinansial.id — Kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat berbagai pihak terus mencari strategi adaptif.
Hal ini menjadi sorotan utama dalam Forum Ekonomi Medan 2025 yang digelar di Hotel Santika, Medan, awal pekan ini.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah ekonom, pelaku usaha, dan perwakilan pemerintah daerah untuk membahas langkah menghadapi tekanan harga global yang mulai berdampak pada konsumsi masyarakat dan kinerja industri.
“Kita tidak bisa menunggu stabilitas global, tapi harus menyiapkan daya tahan ekonomi sejak sekarang,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom nasional sekaligus Ketua Dewan Ekonomi Daerah Sumatera Utara.
Menurutnya, inflasi internasional akibat gangguan pasokan energi, pangan, dan logistik masih menjadi risiko utama pada 2025.
Indonesia, termasuk wilayah Sumatera, perlu memperkuat sektor produksi lokal agar tidak terlalu bergantung pada impor.
Baca Juga: “Bursa Bandung Resmi Luncurkan Fitur Edukasi Pajak Digital“
Forum Ekonomi Medan Bahas Tantangan Harga Global dan Daya Saing Daerah
Dalam diskusi panel pertama, para pembicara menyoroti dampak fluktuasi harga minyak dan pangan terhadap biaya logistik serta bahan baku industri.
Purbaya menjelaskan bahwa tren kenaikan harga komoditas global menyebabkan tekanan terhadap pelaku UMKM yang masih bergantung pada bahan impor.
“Solusinya adalah memperkuat rantai pasok lokal dan menumbuhkan sentra produksi di daerah,” ujarnya.
Ekonom dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Irma Halim, menambahkan bahwa peningkatan efisiensi transportasi dan digitalisasi perdagangan bisa menjadi kunci menjaga daya saing.
Menurutnya, harga global tidak selalu bisa dikendalikan, tetapi efeknya dapat diminimalkan melalui strategi adaptif di tingkat daerah.
Forum Ekonomi Medan Kolaborasi Pemerintah dan UMKM Jadi Fokus Utama
Forum tersebut juga menyoroti peran UMKM sebagai penopang ekonomi lokal.
Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian berkomitmen memperkuat ekosistem bisnis kecil dengan pelatihan digital dan akses pembiayaan mikro.
- 🏦 Dukungan modal: kerja sama dengan lembaga keuangan daerah untuk kredit lunak.
- 💻 Transformasi digital: mendorong UMKM berjualan melalui platform daring.
- 🌾 Diversifikasi produk: mengembangkan produk olahan lokal berbasis pertanian dan perkebunan.
“UMKM adalah garda depan dalam menghadapi fluktuasi global. Saat ekspor tertekan, konsumsi lokal yang menopang ekonomi,” ujar Rudi Simatupang, Kepala Dinas Perdagangan Medan.
Selain itu, pemerintah daerah juga menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi untuk riset bahan pengganti impor, seperti tepung singkong untuk industri makanan dan bahan tekstil ramah lingkungan.
Investasi Daerah Jadi Pilar Ketahanan Ekonomi
Forum Ekonomi Medan turut menekankan pentingnya arus investasi baru sebagai cara memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Menurut data Bank Indonesia perwakilan Sumatera Utara, arus investasi ke sektor manufaktur dan energi terbarukan di Medan meningkat 18% pada kuartal pertama 2025.
“Investasi yang stabil akan menjadi peredam gejolak harga global,” jelas Irma Halim.
Para peserta forum sepakat bahwa regulasi daerah perlu dibuat lebih fleksibel untuk menarik investor tanpa mengorbankan aspek lingkungan.
Purbaya menyarankan agar pemerintah daerah fokus pada penyederhanaan perizinan dan insentif pajak hijau untuk proyek-proyek berkelanjutan.
Dengan cara ini, Medan bisa menjadi contoh kota yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah dinamika ekonomi dunia.
Upaya Stabilisasi Harga dan Kemandirian Energi
Sesi keempat forum membahas strategi stabilisasi harga pangan dan energi — dua faktor paling rentan terhadap tekanan global.
Pemerintah provinsi berencana membangun gudang pangan regional dan sistem distribusi digital untuk menekan lonjakan harga.
Selain itu, beberapa pelaku industri juga mulai mengadopsi energi surya dan biogas untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor.
Langkah ini dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi bersih.
“Kemandirian energi dan pangan bukan hanya urusan nasional, tapi juga daerah. Ini soal ketahanan ekonomi bersama,” tegas Purbaya.
Strategi Jangka Panjang: Ekonomi Lokal yang Tangguh
Forum Ekonomi Medan menyimpulkan lima langkah utama untuk menghadapi harga global yang tidak stabil:
- Meningkatkan kapasitas produksi lokal agar lebih mandiri terhadap impor.
- Memperkuat infrastruktur logistik dan konektivitas antarwilayah.
- Mendukung digitalisasi UMKM untuk memperluas pasar domestik.
- Mendorong investasi berkelanjutan di sektor energi dan industri hijau.
- Meningkatkan koordinasi fiskal dan moneter daerah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Para peserta forum sepakat bahwa strategi ini bukan hanya reaksi terhadap krisis global, tetapi juga bagian dari visi jangka panjang membangun ekonomi daerah yang tangguh dan inklusif.
“Bila setiap daerah mampu bertahan, maka ekonomi nasional akan semakin solid,” pungkas Purbaya menutup sesi diskusi.
Refleksi: Ketahanan Ekonomi dari Akar Lokal
Kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha.
Dari Medan, muncul semangat baru untuk menghadapi tantangan harga global dengan pendekatan berbasis kemandirian lokal dan inovasi.
Ekonomi daerah yang kuat akan menjadi fondasi bagi stabilitas nasional di tengah dinamika dunia yang terus berubah.
Melalui strategi nyata dan kolaborasi lintas sektor, Forum Ekonomi Medan berhasil menegaskan satu pesan penting —
bahwa ketahanan ekonomi Indonesia dimulai dari daerah yang siap, kreatif, dan adaptif.
Baca Juga: “Tren Investasi Emas 2025: Aman dari Inflasi, Tapi Tak Bebas Risiko“











