duniafinansial.id – Dunia aset digital di Indonesia semakin bergairah. Seorang analis muda, Lani Prameswari (26), dari startup riset keuangan CoinScope Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan bahwa kripto lokal Indonesia berpotensi menembus pasar Asia dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Menurutnya, kombinasi regulasi yang semakin jelas dan adopsi blockchain di sektor industri menjadi faktor kunci pendorong pertumbuhan ini.
Dalam riset terbarunya, CoinScope mencatat adanya peningkatan transaksi kripto lokal hingga 120 persen sepanjang tahun terakhir, terutama pada aset berbasis utilitas dan token yang mendukung ekosistem digital lokal. Lani menilai tren ini sebagai sinyal kuat bahwa investor regional mulai melirik potensi aset digital asal Indonesia.
“Banyak proyek kripto lokal kini tidak hanya berorientasi pada spekulasi, tetapi juga menciptakan solusi nyata di sektor keuangan, logistik, dan UMKM digital,” jelas Lani dalam wawancara di Jakarta.
Baca Juga: “Pelaku Usaha Ririn Bangun Brand Kuliner Lokal Go Internasional“
Analis Muda Lani Ungkap Peningkatan Adopsi Kripto di Asia Tenggara
Fenomena meningkatnya popularitas kripto bukan hanya terjadi di Indonesia. Asia Tenggara kini menjadi salah satu wilayah dengan tingkat adopsi blockchain tercepat di dunia. Negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand telah memperlihatkan pertumbuhan transaksi digital yang signifikan.
Lani menyebutkan bahwa proyek-proyek kripto asal Indonesia memiliki peluang besar menembus pasar ini karena memiliki karakteristik unik, yakni keterkaitan dengan ekosistem perdagangan dan fintech.
Faktor Pendorong Potensi Kripto Lokal Menurut Analis Muda Lani:
- Regulasi lebih pasti. Pemerintah mulai memperjelas posisi kripto sebagai aset digital legal yang diawasi Bappebti.
- Koneksi lintas industri. Banyak proyek kripto lokal terhubung dengan sektor logistik, e-commerce, dan UMKM digital.
- Komunitas pengguna aktif. Indonesia memiliki basis komunitas blockchain yang besar dan dinamis.
- Dukungan investor muda. Generasi milenial dan Gen Z mulai memanfaatkan kripto sebagai alternatif investasi jangka panjang.
“Keunggulan utama proyek lokal adalah kedekatan dengan pengguna dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar Asia,” tambah Lani.
Proyek Kripto Lokal Mulai Dilirik Investor
Menurut laporan CoinScope, beberapa token kripto buatan anak bangsa mulai dilirik oleh investor luar negeri karena memiliki model bisnis yang jelas dan potensi ekspansi global.
Salah satu contohnya adalah NusaToken, aset digital yang dikembangkan untuk mendukung pembayaran lintas platform UMKM di Asia Tenggara. Token ini menggunakan teknologi smart contract berbasis Ethereum Layer-2, yang memungkinkan biaya transaksi rendah dan efisiensi tinggi.
Selain itu, proyek seperti GreenChain ID juga menarik perhatian karena menggabungkan konsep kripto dengan energi terbarukan. Proyek ini mengembangkan sistem pelacakan sertifikat karbon berbasis blockchain, yang dapat digunakan lintas negara.
“Proyek-proyek seperti ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak kalah dalam hal inovasi teknologi blockchain,” ujar Lani.
Analis Muda Lani Ungkap Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski potensinya besar, Lani menegaskan bahwa pasar kripto lokal masih menghadapi beberapa tantangan mendasar. Salah satunya adalah kurangnya literasi digital di kalangan investor ritel dan ketergantungan pada tren global yang membuat harga kripto lokal fluktuatif.
Selain itu, peran bursa kripto lokal juga menjadi perhatian. Menurutnya, bursa harus lebih transparan dan memperkuat sistem keamanan agar bisa bersaing di kancah internasional.
Tantangan Utama Kripto Lokal:
- Edukasi publik dan perlindungan investor masih terbatas.
- Ketergantungan terhadap platform exchange luar negeri.
- Risiko volatilitas tinggi akibat sentimen pasar global.
- Kurangnya dukungan institusi keuangan besar untuk adopsi blockchain.
“Kalau edukasi dan kepercayaan publik sudah meningkat, proyek kripto lokal bisa berkembang lebih cepat dan masuk ke pasar Asia dengan mudah,” jelas Lani.
Regulasi dan Dukungan Pemerintah
Lani juga menyoroti peran penting pemerintah dalam menciptakan ekosistem kripto yang sehat dan berdaya saing global. Saat ini, regulasi aset digital di Indonesia sudah lebih jelas sejak pembentukan Badan Pengawas Perdagangan Aset Kripto (Bappebti).
Selain pengawasan, pemerintah juga mulai membuka ruang kolaborasi dengan pelaku industri blockchain untuk mendukung transparansi dan inovasi. Hal ini terlihat dari inisiatif pengembangan Rupiah Digital (Central Bank Digital Currency) oleh Bank Indonesia, yang berpotensi menjadi fondasi untuk transaksi kripto lintas negara.
“Kebijakan yang inklusif akan mendorong lebih banyak pengembang lokal berani berinovasi,” ujar Lani.
Selain itu, kerja sama antarnegara di Asia juga menjadi peluang besar. Jika proyek-proyek kripto lokal bisa mematuhi standar keamanan dan kepatuhan regional, maka ekspansi ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina akan lebih mudah.
Masa Depan Kripto Indonesia di Kancah Regional
Lani optimistis bahwa lima tahun mendatang, Indonesia akan menjadi pusat pengembangan blockchain dan aset digital di Asia Tenggara. Ia menilai kombinasi antara talenta muda, pasar besar, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi modal utama untuk mewujudkan hal itu.
“Ekosistem kripto kita sedang matang. Tantangannya bukan pada teknologi, tetapi pada membangun kepercayaan publik dan memperluas adopsi nyata di sektor industri,” katanya.
CoinScope memproyeksikan bahwa nilai kapitalisasi pasar kripto lokal bisa tumbuh hingga US$5 miliar pada 2028 jika ekosistem inovasi, regulasi, dan edukasi berjalan seimbang.
Dengan semakin banyaknya proyek kripto yang mengedepankan nilai utilitas dan keberlanjutan, Lani yakin Indonesia siap bersaing dengan pemain besar dari Korea Selatan, Jepang, dan Singapura.
“Kita memiliki potensi besar. Yang diperlukan hanyalah kolaborasi lintas sektor agar kripto lokal bisa menjadi kebanggaan Asia,” tutup Lani.
Baca Juga: “Jumbo! Transaksi Kripto di RI Tahun Ini Sudah Rp 360 Triliun“











