duniafinansial.id – Melalui platform Mode Solo, perajin, pengrajin, dan usaha kecil menengah (UKM) tenun di wilayah Solo dan sekitarnya akan mendapatkan akses ke teknologi pemasaran berbasis daring. Platform ini memungkinkan mereka untuk menampilkan katalog digital, menjual produk, mengelola pesanan, dan berinteraksi langsung dengan pembeli – tanpa harus bergantung hanya pada toko fisik atau bazar.
Teknologi ini juga menawarkan fitur unggulan seperti: pencarian motif tenun berdasarkan warna dan jenis, sistem pembayaran terintegrasi, logistik terhubung, serta fitur storytelling yang menampilkan proses tenun tradisional dari alat tenun bukan mesin (ATBM) hingga produk jadi. Dengan demikian, konsumen tidak hanya membeli kain, tetapi juga ikut menghargai cerita budaya di baliknya.
Keunggulan platform Mode Solo:
- Marketplace digital khusus tenun khas Solo dan sekitarnya.
- Fitur storytelling produksi tenun untuk memperkuat identitas produk.
- Modul pemasaran bagi pengrajin: foto produk, media sosial, branding.
- Sistem pembayaran & pengiriman terhubung agar transaksi lebih mudah.
“Bagi banyak pengrajin, akses pasar selalu jadi kendala. Sekarang mereka punya ruang digital yang terbuka 24 jam,” jelas Hadi.
Baca Juga: “Generasi Z Mulai Terapkan Konsep Minimal Spending Challenge“
Mode Solo Ujar Manfaat Bagi Pengrajin dan UMKM Tenun
Program ini memberikan manfaat nyata bagi para pengrajin tenun dan UMKM lokal. Mereka tidak hanya belajar soal pemasaran digital, tetapi juga mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, mengemas secara profesional, dan memetakan konsumen mana yang tepat. Hal ini potensial meningkatkan nilai jual tenun karena produk tidak hanya dianggap sebagai kain tradisional, melainkan juga produk kreatif modern.
“Sekarang saya bisa mengunggah produk saya di platform Mode Solo, kirim ke luar pulau bahkan ke luar negeri – sebelumnya hanya pelanggan lokal,” kata Suharti, pengrajin tenun rumahan di Kecamatan Kartasura.
Manfaat yang dirasakan:
- Peningkatan jangkauan pasar ke luar wilayah Solo.
- Pemasaran yang lebih efisien tanpa biaya pameran besar.
- Pendapatan yang lebih stabil bagi pengrajin kecil.
- Peningkatan kapabilitas digital: foto, katalog, media sosial.
“Dengan platform ini, tenun kami punya panggung global – yang dulunya hanya pasar lokal,” tambah Suharti.
Kolaborasi Mode Solo dengan Pemerintah, Akademisi, dan Platform Teknologi
Mode Solo bukan berjalan sendiri. Pemerintah Kota Solo bekerja sama dengan lembaga pendidikan tekstil dan mode, asosiasi pengrajin, serta startup teknologi lokal yang mengembangkan sisi platform digital. Akademisi turut berkontribusi lewat pelatihan literasi digital bagi pengrajin, pengembangan packaging ramah lingkungan, dan branding yang cocok untuk pasar generasi muda.
Bentuk kolaborasi:
- Pelatihan pengrajin tenun: digital marketing & foto produk.
- Integrasi dengan kurikulum sekolah kejuruan tekstil lokal.
- Kerjasama startup teknologi kota Solo untuk pengembangan platform.
- Monitoring dan evaluasi kepada pengrajin yang bergabung agar hasilnya terukur.
“Ini bukan sekadar marketplace – tapi ekosistem tenun digital yang menghubungkan budaya, teknologi dan bisnis,” ujar Dr. Rina Mahesa, dosen tekstil Universitas Sebelas Maret.
Tantangan dan Rencana Pengembangan
Meski mendapat sambutan positif, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi agar Mode Solo bisa berkelanjutan. Beberapa di antaranya adalah kesiapan pengrajin dalam literasi digital, biaya produksi yang masih cukup tinggi untuk produk premium, serta persaingan dari produk tekstil massal murah.
Untuk itu, pemerintah dan pengelola platform merencanakan beberapa langkah:
- Program “Tenun Digital 101” agar pengrajin lebih siap menggunakan platform.
- Skema insentif untuk produksi skala kecil agar biaya bisa ditekan.
- Kampanye global yang menonjolkan keunikan motif dan warisan budaya tenun Solo.
- Versi lanjutan platform yang mendukung penjualan internasional dalam bahasa Inggris dan pengiriman ke luar negeri.
“Visinya besar: menjadikan tenun Solo sebagai dikenal bukan hanya di Indonesia, tapi dunia,” tegas Hadi.
Dampak yang Diharapkan ke Depan
Dengan pelaksanaan yang baik, Mode Solo diharapkan menjadi model bagi pemasaran digital produk kriya dan tekstil tradisional di banyak daerah di Indonesia. Bagi Kota Solo sendiri, hal ini bisa menguatkan identitasnya sebagai pusat mode nasional sekaligus melestarikan warisan tenun yang memiliki nilai budaya tinggi.
“Ketika karya pengrajin tenun bisa dinikmati secara global, maka yang terdampak bukan hanya mereka – tetapi seluruh ekosistem budaya Kota Solo,” tutup Dr. Rina.
Investasi digital ini sekaligus membuka jalan bagi generasi muda untuk masuk industri kreatif tenun, sehingga pewarisan motif, teknik, dan cerita tenun tidak terputus. Mode Solo berpotensi menjadi jembatan antara masa lalu yang kaya budaya dan masa depan yang serba digital.
Baca Juga: “Akrobat fiskal dan jalan baru ekonomi Indonesia“











