Jakarta (duniafinansial) – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus memperkuat kapabilitas tim keamanan sibernya. Upaya ini dilakukan melalui sertifikasi sumber daya manusia dan sistem yang mengacu pada standar internasional. Strategi ini penting untuk menghadapi risiko siber yang semakin kompleks, mulai dari phishing, social engineering, hingga serangan Distributed Denial of Service (DDoS).
SVP IT Security BCA, Ferdinan Marlim, menjelaskan bahwa penguatan keamanan mencakup tiga aspek utama: teknologi, proses, dan manusia. “(Pada aspek technology) kami juga mengambil sertifikasi-sertifikasi ISO yang terkait keamanan sistem informasi, termasuk untuk jasa pembayaran dan privacy data,” ujarnya di Jakarta, Sabtu.
baca juga: Peran Pemerintahan Prabowo Subianto Hadapi Konflik Global
Adopsi Framework Internasional
BCA mengadopsi NIST Cybersecurity Framework (CSF) dari National Institute of Standards and Technology. Framework ini mencakup tahapan identifikasi, perlindungan, deteksi, respons, pemulihan, dan tata kelola risiko. Dengan penerapan framework, BCA dapat memetakan potensi risiko secara sistematis. Selain itu, prosedur penanganan insiden siber dapat berjalan sesuai standar global.
Selain framework, BCA mendorong tim keamanan untuk memperoleh sertifikasi profesional di bidang keamanan sistem informasi. Sertifikasi ISO terkait keamanan data dan layanan pembayaran juga diterapkan. Hal ini memastikan sistem dan prosedur perusahaan telah teruji secara internasional.
Monitoring 24 Jam
BCA mengoperasikan Security Monitoring Center yang aktif selama 24 jam sehari. Pusat ini bertugas mendeteksi ancaman secara real-time dan menindaklanjuti setiap insiden. Ferdinan menegaskan bahwa layanan digital yang kian berkembang meningkatkan eksposur terhadap serangan siber. Dengan monitoring 24 jam, respons terhadap ancaman dapat lebih cepat dan tepat.
Fokus Tiga Pilar: People, Process, Technology
Strategi keamanan BCA berfokus pada tiga pilar: manusia (people), proses (process), dan teknologi (technology).
Pada aspek people, BCA memberikan edukasi keamanan siber kepada karyawan, manajemen, dan direksi. Selain edukasi, perusahaan melakukan simulasi serangan phishing. “Kami mengetes karyawan untuk melihat berapa banyak yang terpancing situs palsu,” jelas Ferdinan. Simulasi ini membantu meningkatkan kesadaran dan meminimalkan risiko kesalahan manusia.
Phishing adalah metode kejahatan siber yang bertujuan memperoleh informasi sensitif korban. Informasi tersebut bisa berupa PIN, kata sandi, atau data finansial. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, karyawan lebih waspada terhadap ancaman ini.
Aspek process mencakup prosedur transaksi ketat. BCA menerapkan pengawasan ganda (double control) pada layanan korporasi. Mekanisme ini mengurangi risiko penyalahgunaan. SVP Wholesale Transaction Banking Product Development BCA, Martinus Robert Winata, menekankan bahwa prosedur yang jelas menjaga integritas transaksi.
Sedangkan aspek technology menekankan penggunaan sistem yang tersertifikasi ISO. Sistem pembayaran dan perlindungan data nasabah diuji melalui standar internasional. Dengan begitu, layanan digital tetap aman dari berbagai serangan siber yang kompleks.
Edukasi dan Imbauan bagi Nasabah
Selain memperkuat internal, BCA aktif mengedukasi nasabah. Bank menekankan agar informasi sensitif, seperti PIN, kata sandi, dan kode autentikasi, tidak dibagikan kepada pihak manapun. Bank juga tidak pernah meminta informasi ini melalui telepon, email, atau pesan singkat.
Robert mengingatkan nasabah untuk waspada terhadap situs palsu. Mereka disarankan menggunakan tautan resmi dan tidak mudah membagikan data pribadi. Kombinasi proteksi internal dan kesadaran nasabah menjadi kunci keamanan transaksi digital.
Kesimpulan
Penguatan keamanan siber BCA melalui sertifikasi SDM, framework internasional, dan monitoring 24 jam menunjukkan komitmen perusahaan. Fokus pada people, process, dan technology membantu melindungi data nasabah.
Edukasi berkelanjutan bagi karyawan dan nasabah menjadi bagian dari strategi ini. Hal ini membuat kesadaran terhadap ancaman siber terus meningkat. Dengan langkah-langkah ini, layanan perbankan digital BCA tetap aman, nyaman, dan terpercaya.
Penggunaan kalimat yang lebih pendek dan transisi seperti “selain itu”, “dengan begitu”, “sedangkan” membuat artikel lebih mudah dibaca. Strategi BCA kini tidak hanya menghadapi risiko digital, tetapi juga memastikan nasabah dan karyawan memahami pentingnya keamanan siber.
baca juga: Emas Antam Cetak Kenaikan Besar, Harga Naik Ke Rp3 Juta Lagi











