Suku Bunga The Fed Jadi Katalis Baru Bagi Harga Emas Dunia
duniafinansial.id – Harga emas dunia kembali mendapat dorongan positif setelah pasar membaca arah kebijakan moneter The Federal Reserve mulai lebih longgar. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai peluang pemangkasan suku bunga The Fed dapat menjadi sentimen kuat bagi penguatan emas dalam beberapa bulan mendatang.
Inflasi AS Mulai Mereda dan Tekanan Suku Bunga Berkurang
Ibrahim menjelaskan, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sektor ketenagakerjaan tidak lagi sekuat perkiraan pasar, sementara tingkat pengangguran memberi sinyal ekonomi mulai mendingin.
Di saat yang sama, harga minyak mentah yang terus melemah berpotensi menekan inflasi. Kondisi ini membuat The Fed memiliki ruang lebih besar untuk menahan suku bunga, bahkan memangkasnya apabila inflasi bergerak mendekati target 2 persen.
“Kalau inflasi terus mendekati 2%, kemungkinan besar The Fed bukan lagi menaikkan suku bunga, tetapi justru akan menurunkannya. Itu menjadi sentimen yang sangat positif bagi harga emas,” ujar Ibrahim di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2026.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Dorong Minat ke Emas
Emas biasanya lebih menarik ketika suku bunga diperkirakan turun. Sebab, logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Ketika bunga turun, biaya peluang memegang emas ikut menurun.
Menurut Ibrahim, kombinasi inflasi yang terkendali, harga minyak yang melemah, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menjaga tren penguatan emas. Ia bahkan memperkirakan harga emas berpeluang kembali menembus level di atas US$5.000 per ons hingga akhir tahun jika sentimen tersebut berlanjut.
Selain kebijakan The Fed, pelaku pasar juga mencermati keseimbangan pasokan dan permintaan global. Faktor ini tetap berperan penting dalam menentukan arah harga emas, terutama saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih tinggi.
Baca Juga : “Menaker Yassierli Tawarkan Solusi Cegah PHK PT Granito“
Harga Emas Akhiri Tekanan Empat Pekan
Harga emas dunia sebelumnya mulai bangkit setelah investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Mengutip CNBC, harga emas spot naik 1,4 persen ke level US$4.182,28 per ons dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan pertama dalam satu bulan.
Penguatan tersebut mengakhiri tren pelemahan empat pekan beruntun. Sepanjang kuartal April hingga Juni 2026, emas sempat mencatat tekanan berat akibat inflasi, penguatan dolar AS, dan sikap hawkish bank sentral.
Data ketenagakerjaan AS menjadi pemicu utama perubahan sentimen. Nonfarm payrolls Juni hanya bertambah 57.000 pekerjaan, lebih rendah dari revisi Mei sebesar 129.000 dan proyeksi ekonom sebesar 115.000 pekerjaan.
Pasar Tetap Waspadai Sikap Hawkish The Fed
Meski peluang kenaikan suku bunga menurun, pasar belum sepenuhnya mengabaikan risiko kebijakan ketat. FedWatch CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan September berada di 53,5 persen, turun dari sekitar 65 persen sebelum data tenaga kerja dirilis.
Analis OCBC menilai data ketenagakerjaan yang lemah membantu mengurangi risiko sikap agresif The Fed. Namun, investor tetap perlu berhati-hati karena tingkat pengangguran masih stabil dan tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang.
Dengan kondisi tersebut, harga emas masih memiliki ruang pemulihan, tetapi pergerakannya akan sangat bergantung pada data inflasi, arah dolar AS, imbal hasil obligasi, dan pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Logam Mulia Lain Ikut Menguat
Kenaikan harga emas juga diikuti logam mulia lain. Harga perak spot naik 2,9 persen ke US$62,77 per ons dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 6,7 persen.
Platinum juga menguat sekitar 2,8 persen menjadi US$1.660,10 per ons, sementara palladium naik sekitar 1 persen ke US$1.280,09 per ons.
Penguatan serentak ini menunjukkan pasar mulai kembali melirik aset komoditas logam mulia. Namun, tren tersebut masih perlu dikonfirmasi oleh data ekonomi lanjutan dan arah kebijakan The Fed.
Secara keseluruhan, peluang pemangkasan suku bunga menjadi faktor penting yang dapat menopang harga emas dunia. Jika inflasi AS terus mereda dan The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran, emas berpotensi mempertahankan momentum penguatannya hingga akhir tahun.
