duniafinansial.id — Dalam upaya memperkuat daya saing dan kenyamanan berbelanja di era digital, Dinas Perdagangan Bali resmi mengumumkan program besar bertajuk “Transformasi Pasar Modern Berbasis Kearifan Lokal”. Program ini bertujuan memperbarui wajah pasar tradisional menjadi lebih higienis, tertata, dan terkoneksi secara digital tanpa menghilangkan nilai budaya Bali.
Peluncuran program dilakukan di Pasar Badung Denpasar, dihadiri perwakilan pemerintah provinsi, asosiasi pedagang, dan startup logistik lokal. Kepala Dinas Perdagangan Bali, I Nyoman Sujana, menegaskan bahwa transformasi ini bukan sekadar soal tampilan bangunan, tetapi juga tentang mentalitas baru dalam pengelolaan pasar rakyat.
“Pasar tradisional adalah jantung ekonomi Bali. Melalui transformasi ini, kami ingin menjadikannya pusat perdagangan modern yang tetap berpijak pada budaya gotong royong,” ujarnya saat konferensi pers.
Baca Juga: “SmartMoney Manado Ajak Milenial Kelola Keuangan Harian“
Dinas Perdagangan Bali Fokus Transformasi: Digitalisasi dan Tata Kelola
Program Dinas Perdagangan Bali berfokus pada dua pilar utama: digitalisasi layanan pasar dan peningkatan tata kelola pedagang. Melalui sistem aplikasi Bali Market Smart, pedagang dapat memantau stok barang, mengatur harga, serta menerima pembayaran nontunai secara langsung.
Empat Fokus Transformasi Pasar Modern
- Digitalisasi transaksi: penerapan sistem pembayaran QRIS di seluruh pasar kabupaten/kota.
- Tata ruang ramah lingkungan: penataan ulang kios dan area limbah berbasis energi hijau.
- Pelatihan pedagang: edukasi manajemen digital dan layanan pelanggan.
- Kampanye pasar sehat: penerapan standar kebersihan dan pengelolaan sampah terpadu.
Menurut Sujana, program ini akan diterapkan secara bertahap di 12 pasar utama di Bali, termasuk Pasar Ubud, Pasar Kreneng, dan Pasar Gianyar.
Tahapan Program Transformasi Pasar Modern
| Tahap | Waktu Pelaksanaan | Fokus Utama | Target |
|---|---|---|---|
| I – Digitalisasi Transaksi | Nov 2025 – Mar 2026 | Pembayaran QRIS & E-invoice | 30% pasar aktif |
| II – Renovasi Fasilitas | Apr – Sep 2026 | Penataan kios, pencahayaan, sanitasi | 8 pasar utama |
| III – Edukasi Pedagang | Okt 2026 – Feb 2027 | Pelatihan digital marketing & kebersihan | 1.500 pedagang |
| IV – Evaluasi & Ekspansi | Mar 2027 | Integrasi data pasar digital se-Bali | 100% pasar kabupaten |
Program ini juga melibatkan Bank Pembangunan Daerah Bali dan startup lokal PaySmart.id untuk mendukung sistem pembayaran digital dan pelatihan literasi keuangan bagi pedagang kecil.
Dinas Perdagangan Bali Dengan Sentuhan Budaya dan Lingkungan
Salah satu keunikan dari inisiatif Dinas Perdagangan Bali adalah penerapan konsep “pasar berkarakter budaya”. Setiap pasar yang direnovasi akan menonjolkan ornamen khas daerah, seperti ukiran Bali, penggunaan bambu dan batu alam, serta area canang sari corner yang disediakan bagi pedagang untuk tetap menjalankan tradisi harian.
Prinsip “Pasar Hijau dan Lestari”
- Menggunakan atap surya untuk pencahayaan siang hari.
- Pengelolaan air limbah berbasis biofilter alami.
- Sistem pendingin alami dengan ventilasi silang.
- Larangan penggunaan plastik sekali pakai mulai 2026.
Menurut arsitek lokal Anak Agung Made Wirata, yang terlibat dalam desain pasar Ubud baru, konsep ini mencerminkan harmoni antara fungsi modern dan nilai lokal. “Kami ingin masyarakat merasa pasar tetap menjadi ruang hidup, bukan hanya tempat transaksi,” ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Pedagang
Transformasi ini tidak hanya mengubah infrastruktur, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi mikro. Dengan sistem digitalisasi, pedagang kini dapat menjangkau pelanggan lebih luas melalui marketplace lokal Bali Market Smart.
Dampak Positif Program
- Kenaikan omzet pedagang rata-rata 22% di pasar uji coba.
- Transaksi digital meningkat 40% sejak pembayaran QRIS diterapkan.
- Waktu transaksi berkurang 30%, mempercepat antrian pembeli.
- Tingkat kebersihan pasar meningkat 70%, berdasarkan survei kepuasan pelanggan.
Seorang pedagang di Pasar Badung, Luh Ayu Ratmini, mengaku lebih mudah mengatur penjualan dengan sistem digital. “Sekarang saya bisa tahu penjualan harian dari ponsel. Uang langsung masuk ke rekening tanpa harus menghitung tunai,” tuturnya.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Dukungan Komunitas
Program Dinas Perdagangan Bali juga mendapat dukungan dari komunitas lokal seperti Bali Eco Community dan StartupHub Denpasar. Mereka terlibat dalam pelatihan digital marketing, pengelolaan limbah, dan kampanye “Belanja di Pasar, Cintai Produk Lokal”.
Kolaborasi Strategis
- Startup edukasi digital melatih pedagang membuat katalog online.
- Komunitas lingkungan mendampingi pengelolaan sampah organik pasar.
- UMKM binaan Dinas Perdagangan membantu branding produk lokal.
- Event bulanan “Pasar Kreatif Bali” sebagai promosi ekonomi kreatif daerah.
Menurut Sujana, keterlibatan komunitas membuat transformasi lebih mudah diterima. “Kami tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun semangat baru dalam berdagang,” katanya.
Menuju Ekosistem Pasar Digital dan Berdaya Saing
Langkah Dinas Perdagangan Bali ini diharapkan menjadi model nasional dalam modernisasi pasar tradisional berbasis teknologi dan budaya. Pemerintah provinsi menargetkan seluruh pasar di Bali terhubung dengan sistem digital satu pintu pada 2027, dengan data penjualan dan stok barang yang bisa diakses secara transparan.
“Kami ingin pasar rakyat menjadi tulang punggung ekonomi daerah yang tangguh dan inklusif,” tegas Sujana.
Dengan semangat Tri Hita Karana — keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas — Bali berupaya menghadirkan wajah baru perdagangan rakyat yang modern, berkelanjutan, dan tetap memancarkan identitas lokalnya.
Baca Juga: “Anggaran yang diusulkan Gubernur Inslee untuk tahun 2023-25“
