duniafinansial.id — Langkah besar datang dari pesisir Kepulauan Riau. Beberapa UMKM Tanjung Pinang kini resmi menembus pasar Jepang lewat produk kriya tangan berbahan alami seperti anyaman pandan, tenun laut, dan hiasan bambu daur ulang.
Produk-produk ini diminati karena desainnya yang minimalis dan selaras dengan gaya hidup eco-luxury Jepang.
“Kami tak menyangka produk lokal bisa diterima di Tokyo. Jepang sangat menghargai karya dengan sentuhan alam,” ujar Siti Rahma, pemilik usaha Cahaya Kriya Nusantara.
Kerja sama ekspor ini diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tanjung Pinang bersama komunitas GlobalKriya Export Hub, yang membantu kurasi desain dan pengemasan agar sesuai standar pasar Jepang.
Baca Juga: “BRI Dorong Erildya Camilan Family Naik Kelas Lewat Sinergi Inovasi dan Tradisi“
UMKM Tanjung Pinang Ungkap Proses Kurasi dan Pendampingan Ekspor
Sebelum akhirnya dikirim ke Jepang, setiap produk melewati proses kurasi ketat.
Tim ahli dari GlobalKriya menilai kualitas bahan, kehalusan tenunan, hingga daya tahan produk saat pengiriman.
Tahapan pendampingan meliputi:
- 🧵 Pelatihan desain modern tanpa menghilangkan identitas lokal.
- 📦 Standarisasi pengemasan ramah lingkungan.
- 📈 Pendampingan ekspor digital melalui platform e-commerce internasional.
- 💬 Kelas komunikasi bisnis Jepang agar pelaku UMKM paham etika ekspor.
“Kami ingin produk kriya tidak hanya cantik, tapi juga berdaya jual tinggi di luar negeri,” ujar Hendra Wijaya, koordinator GlobalKriya.
Dengan kurasi ini, produk UMKM Tanjung Pinang berhasil lolos tahap seleksi untuk pameran Tokyo Craft Week 2025.
UMKM Tanjung Pinang Ungkap Daya Tarik Desain Berbasis Alam
Produk kriya asal Tanjung Pinang dikenal karena keaslian bahan dan filosofi lokal yang kuat.
Bambu, pandan laut, dan serat kelapa menjadi bahan utama yang diolah dengan teknik tradisional berpadu inovasi modern.
“Kami mengusung konsep eco harmony, perpaduan antara alam, budaya, dan fungsi,” kata Siti Rahma.
Produk terpopuler di Jepang adalah lampu meja anyaman pandan dan tas rotan kecil yang dikemas dalam kotak bambu dengan label berbahasa Jepang.
Keunikan tekstur alami dan aroma khas bahan tropis menjadi nilai tambah di pasar Asia Timur.
Menurut data Dinas Perdagangan, pesanan awal mencapai 800 unit produk kriya dengan nilai transaksi setara Rp720 juta.
Kolaborasi UMKM Tanjung Pinang Dengan Pemerintah dan Komunitas Kreatif
Pemerintah daerah Tanjung Pinang mendukung penuh langkah ekspor ini melalui program “UMKM Go Global”.
Melalui program tersebut, pelaku usaha mikro diberi akses pendanaan ringan, pelatihan desain, dan promosi digital lintas negara.
“Kami ingin Tanjung Pinang dikenal bukan hanya kota wisata, tapi juga pusat kriya unggulan,” ujar Wali Kota Rahmawati saat peluncuran ekspor perdana.
Selain pemerintah, komunitas kreatif lokal seperti Kriya Muda Kepulauan juga berperan penting dalam memperkenalkan motif khas laut Tanjung Pinang ke dunia internasional.
Kerja sama ini menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha kecil bisa membuka jalan menuju ekspor berkelanjutan.
Tantangan Produksi dan Standar Global
Meski sukses menembus pasar Jepang, para pelaku UMKM mengaku masih menghadapi tantangan.
Beberapa di antaranya adalah keterbatasan bahan baku musiman, fluktuasi harga rotan, serta kebutuhan standar kualitas internasional yang ketat.
“Setiap produk harus identik, tidak boleh ada cacat sedikit pun. Ini tantangan bagi pengrajin tradisional,” ungkap Hendra Wijaya.
Untuk menjawab hal itu, AirNova bekerja sama dengan Lembaga Standarisasi Produk Indonesia (LSPI) menyediakan laboratorium mini pengujian kekuatan bahan dan ketahanan warna.
Langkah ini membantu pelaku UMKM menjaga kualitas sekaligus menambah kepercayaan pembeli luar negeri.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Daerah
Keberhasilan ekspor kriya membawa dampak positif bagi masyarakat Tanjung Pinang.
Sedikitnya 120 pengrajin lokal kini terlibat dalam rantai produksi, mulai dari penenun, pengepak, hingga desainer grafis label produk.
“Dulu kami hanya jual di pasar lokal, sekarang kami punya pesanan rutin dari luar negeri,” ujar Mila Sari, pengrajin anyaman pandan.
Selain membuka lapangan kerja, ekspor ini juga meningkatkan motivasi generasi muda untuk melanjutkan tradisi kriya keluarga dengan pendekatan digital.
Sekolah kejuruan di Tanjung Pinang mulai memasukkan mata pelajaran kriya kontemporer dalam kurikulumnya.
Rencana Ekspansi dan Promosi Internasional
Melihat antusiasme pasar Jepang, Dinas Perdagangan berencana memperluas target ekspor ke Korea Selatan dan Singapura.
Beberapa buyer internasional bahkan tertarik dengan konsep “Tropical Craft Collection” yang akan diluncurkan pertengahan 2025.
“Kami ingin memperkenalkan keindahan tangan Indonesia dengan sentuhan modern global,” ujar Rahmawati.
Selain memperluas pasar, pemerintah daerah juga menggandeng Bank Riau Kepri Syariah untuk menyediakan pembiayaan ekspor mikro tanpa agunan, agar UMKM bisa memperbesar kapasitas produksi.
Refleksi – Kriya Lokal Jadi Wajah Indonesia di Dunia
Keberhasilan UMKM Tanjung Pinang menembus pasar Jepang bukan sekadar pencapaian ekonomi, tetapi juga simbol kebanggaan budaya.
Produk kriya yang lahir dari tangan pengrajin lokal kini menjadi duta kearifan Indonesia di panggung global.
“Setiap tenunan membawa cerita tentang laut, angin, dan kerja keras,” tutup Siti Rahma sambil tersenyum.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi berkelanjutan, Tanjung Pinang membuktikan bahwa produk lokal Indonesia mampu bersaing — bukan karena murah, tetapi karena bermakna.
Baca Juga: “BRI Dukung Ratusan UMKM Binaan Tampil di Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro“
