duniafinansial, Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan dalam dua tahun terakhir. Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Daerah Dalam Angka 2026 mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Sitaro meningkat dari 4,93 persen pada 2024 menjadi 5,18 persen pada 2025 (year on year). Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari dinamika ekonomi daerah yang mulai bergerak lebih produktif dan terarah.
baca juga: BCA Perkuat Keamanan dengan Kerangka Siber Internasional
Strategi Pembangunan Berbasis Potensi Lokal
Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Pemerintah daerah melalui kebijakan tematik pembangunan menitikberatkan pada penguatan sektor budaya, pariwisata, dan UMKM. Konsep pengembangan kawasan seperti Sitaro Masadada Park berbasis budaya menjadi salah satu motor penggerak ekonomi lokal. Pendekatan ini dinilai relevan dengan karakter daerah kepulauan yang kaya potensi wisata alam, budaya, serta sumber daya laut dan pertanian.
Model pembangunan berbasis potensi lokal terbukti lebih berkelanjutan dibandingkan pola pembangunan yang hanya bergantung pada transfer anggaran pusat. Dengan mengoptimalkan kekuatan internal daerah, pertumbuhan ekonomi menjadi lebih organik dan menyentuh langsung masyarakat.
Sektor UMKM dan Akomodasi Melonjak Tajam
Salah satu capaian paling mencolok adalah pertumbuhan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang melonjak dari 6,85 persen pada 2024 menjadi 14,72 persen pada 2025. Lonjakan dua digit ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pariwisata sekaligus pergerakan konsumsi masyarakat.
Pertumbuhan sektor ini memiliki efek domino yang luas. Ketika jumlah wisatawan meningkat, permintaan terhadap penginapan, rumah makan, jasa transportasi, hingga produk oleh-oleh lokal ikut terdongkrak. Pelaku UMKM mendapatkan peluang ekspansi usaha, bahkan membuka cabang baru atau meningkatkan kapasitas produksi.
Selain itu, sektor Industri Pengolahan juga menunjukkan pertumbuhan positif dari 6,82 persen pada 2024 menjadi 8,39 persen pada 2025. Ini menandakan adanya peningkatan nilai tambah produk lokal. Hasil laut, pala, kelapa, maupun komoditas pertanian tidak lagi hanya dijual dalam bentuk mentah, melainkan mulai diolah menjadi produk setengah jadi atau produk siap konsumsi dengan nilai jual lebih tinggi.
Dampak Ekonomi terhadap Masyarakat
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,18 persen membawa sejumlah dampak nyata bagi masyarakat Sitaro.
Pertama, peluang kerja semakin terbuka. Ketika sektor UMKM dan industri pengolahan berkembang, kebutuhan tenaga kerja otomatis meningkat. Anak muda yang sebelumnya mungkin memilih merantau kini memiliki opsi untuk bekerja di daerah sendiri.
Kedua, daya beli masyarakat berpotensi meningkat. Perputaran uang yang lebih cepat di tingkat lokal menciptakan siklus ekonomi yang lebih sehat. Pedagang kecil, nelayan, petani, hingga pelaku usaha rumahan ikut merasakan efeknya.
Ketiga, peningkatan aktivitas ekonomi berkontribusi terhadap potensi kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jika PAD meningkat, pemerintah daerah memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk membiayai pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta program perlindungan sosial.
Tantangan Daerah Kepulauan
Meski menunjukkan tren positif, Sitaro tetap menghadapi tantangan struktural sebagai wilayah kepulauan. Distribusi logistik antar pulau masih menjadi kendala utama. Biaya transportasi barang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah daratan. Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah juga dapat memengaruhi stabilitas harga barang kebutuhan pokok.
Konektivitas antar pulau menjadi faktor krusial dalam menjaga momentum pertumbuhan. Tanpa sistem transportasi yang efisien dan infrastruktur pelabuhan yang memadai, pertumbuhan sektor industri pengolahan bisa terhambat.
Selain itu, penguatan kapasitas SDM juga menjadi tantangan. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan adaptif terhadap perubahan teknologi, terutama dalam pengolahan hasil pertanian dan perikanan.
Menjaga Momentum Pertumbuhan
Agar pertumbuhan 5,18 persen tidak hanya menjadi capaian sesaat, konsistensi kebijakan sangat dibutuhkan. Pemerintah daerah perlu memastikan sinergi antara sektor pariwisata, UMKM, dan industri pengolahan tetap berjalan. Promosi wisata berbasis budaya harus terus diperluas, termasuk digitalisasi pemasaran produk UMKM agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Diversifikasi ekonomi juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu atau dua sektor. Pengembangan ekonomi kreatif, penguatan koperasi nelayan, serta dukungan pembiayaan bagi UMKM dapat menjadi langkah strategis.
Tak kalah penting adalah memastikan pertumbuhan bersifat inklusif. Artinya, manfaat ekonomi harus dirasakan oleh masyarakat di seluruh pulau, bukan hanya terpusat di wilayah tertentu. Pemerataan pembangunan infrastruktur dasar seperti listrik, air bersih, dan jaringan internet menjadi fondasi utama untuk menciptakan pertumbuhan yang merata.
Menuju Kesejahteraan Berkelanjutan
Capaian pertumbuhan ekonomi Sitaro pada 2025 memberikan sinyal optimisme bahwa daerah kepulauan pun mampu berkembang dengan strategi yang tepat. Penguatan sektor berbasis budaya, pariwisata, dan UMKM terbukti mampu mendorong dinamika ekonomi lokal.
Namun, pekerjaan rumah masih cukup besar. Tantangan distribusi, konektivitas, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia harus diatasi secara bertahap dan sistematis.
Jika momentum ini dapat dijaga, bukan tidak mungkin Sitaro akan menjadi contoh keberhasilan pembangunan ekonomi daerah kepulauan yang berkelanjutan dan inklusif. Pada akhirnya, tujuan utama dari pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka persentase, melainkan peningkatan kualitas hidup masyarakat di negeri 47 pulau secara nyata dan berkesinambungan.
baca juga: Sinergi Pengawasan Polri-Bapanas Tren Harga Pangan Masuk Zona Hijau – Hal.2











